Senin, 30 November 2009

Kegiatan LDKS di Mts. Darul Ulum

Sambil menunggu pemateri yg istirahat sejenak,kami rekan PPLK mengadakan hburan (kosidahan)supaya peserta LDKS tidak jenuh dengan adanya acara ini.setelah itu baru pemateri pertama datang didampingi oleh moderator (mashuri)adapun nama pemateri pertama yaitu : ubaidillah dengan menyajikan materi tentang motivasi belajar,pemteri ke dua yaitu :Apipi dengan menyajikan materi tentang keorganisasian,adapun pemateri yang terakhir yaitu :wahyudin dengan menyajikan materi tentang kepemimpinan

PPLK Mahasiswa Latansa Mashiro

Inilah wajah siswa-siswi Mts.Darul Ulum yang sedang duduk manis ketika acara LDKS sedang berlangsung.

Jumat, 27 November 2009

PPLK mahasiswa latansa mashiro

Setelah acara LDKS mahasiswa PPLK mengadakan fhoto-fhoto bersama disekolah Darul Ulum tuk menghilangan rasa lelah,pusing(tp bukan krn stress loh..!)

Senin, 12 Oktober 2009

Jadwal Pemberian MakananBayiJadwal Pemberian MakananBayi BerdasarkanRekomendasi IDAI

* 4-6 bulan (bertahap)
Pukul 06.00 (bangun tidur)
ASI
Pukul 08.00 (makan pagi)
Bubur Susu
Pkl. 10.00
Buah segar/biskuit
Pkl. 12.00 (makan siang)
ASI
Pkl. 14.00 (sebelum tidur
siang)
ASI
Pkl. 16.00
Buah segar/biskuit
Pkl. 18.00 (makan malam)
Bubur susu
Pkl. 21.00
ASI
* 6-9 Bulan (Bertahap)
Pukul 06.00 (bangun tidur)
ASI/PASI
Pukul 08.00 (makan pagi)
Bubur→ nasi tim
Pkl. 10.00
Buah segar/Biskuit
Pkl. 12.00 (makan siang)
Bubur→ nasi tim
Pkl. 14.00 (sebelum tidur
siang)
ASI/PASI
Pkl. 16.00
Buah segar/biskuit
Pkl. 18.00 (makan malam)
Bubur→ nasi tim
Pkl. 21.00
ASI/PASI
* 9-12 Bulan (Bertahap)
Pukul 06.00 (bangun tidur)
ASI/PASI
Pukul 08.00 (makan pagi)
Nasi Tim→ makanan keluarga
Pkl. 10.00
Buah segar/biskuit
Pkl. 12.00 (makan siang)
Nasi tim→ makanan keluarga
Pkl. 14.00 (sebelum tidur
siang)
ASI/PASI
Pkl. 16.00
Buah segar/Biskuit
Pkl. 18.00 (makan malam)
Nasi tim→ makanan keluarga
Pkl. 21.00
ASI/PASI
> 12 bulan
Pukul 06.00 (bangun tidur)
ASI/PASI
Pukul 08.00 (makan pagi)
Makanan Keluarga
Pkl. 10.00
Snack
Pkl. 12.00 (makan siang)
Makanan Keluarga
Pkl. 14.00 (sebelum tidur
siang)
-
Pkl. 16.00
Snack
Pkl. 18.00 (makan malam)
Makanan Keluarga
Pkl. 21.00
ASI/PASI
@Sumber: Ikatan Dokter Anak
Indonesia

Kamis, 08 Oktober 2009

Ilmu adalah seluruh usaha
sadar untuk menyelidiki,
menemukan dan
meningkatkan pemahaman
manusia dari berbagai segi
kenyataan dalam alam
manusia [1]. Segi-segi ini
dibatasi agar dihasilkan
rumusan-rumusan yang pasti.
Ilmu memberikan kepastian
dengan membatasi lingkup
pandangannya, dan kepastian
ilmu-ilmu diperoleh dari
keterbatasannya[2].
Contoh: Ilmu Alam hanya bisa
menjadi pasti setelah
lapangannya dibatasi kedalam
hal yang bahani (materiil saja)
atau ilmu psikologi hanya bisa
meramalkan perilaku manusia
jika membatasi lingkup
pandangannya ke dalam segi
umum dari perilaku manusia
yang kongkrit. Berkenaan
dengan contoh ini, ilmu-ilmu
alam menjawab pertanyaan
tentang berapa jauhnya
matahari dari bumi, atau ilmu
psikologi menjawab apakah
seorang pemudi sesuai untuk
menjadi perawat.
Daftar isi [sembunyikan]
1 Etimologi
2 Syarat-syarat ilmu
3 Pemodelan, teori, dan
hukum
4 Matematika dan metode
ilmiah
5 Bidang-bidang keilmuan
5.1 Ilmu alam
5.2 Ilmu sosial
5.3 Ilmu terapan
6 Tema terkait
7 Lihat pula
8 Referensi
9 Pranala luar
9.1 Sumberdaya
[sunting] Etimologi
Kata ilmu sendiri merupakan
kata serapan dari bahasa
Arab "ilm"[3] yang berarti
memahami, mengerti, atau
mengetahui. Dalam kaitan
penyerapan katanya, ilmu
pengetahuan dapat berarti
memahami suatu
pengetahuan, dan ilmu sosial
dapat berarti mengetahui
masalah-masalah sosial, dan
lain sebagainya.
[sunting] Syarat-syarat ilmu
Berbeda dengan pengetahuan,
ilmu merupakan pengetahuan
khusus dimana seseorang
mengetahui apa penyebab
sesuatu dan mengapa. Ada
persyaratan ilmiah sesuatu
dapat disebut sebagai ilmu[4].
Sifat ilmiah sebagai
persyaratan ilmu banyak
terpengaruh paradigma ilmu-
ilmu alam yang telah ada
lebih dahulu.
1. Obyektif. Ilmu harus
memiliki obyek kajian
yang terdiri dari satu
golongan masalah yang
sama sifat hakikatnya,
tampak dari luar maupun
bentuknya dari dalam.
Obyeknya dapat bersifat
ada, atau mungkin ada
karena masih harus diuji
keberadaannya. Dalam
mengkaji obyek, yang
dicari adalah kebenaran,
yakni persesuaian antara
tahu dengan obyek, dan
karenanya disebut
kebenaran obyektif;
bukan subyektif
berdasarkan subyek
peneliti atau subyek
penunjang penelitian.
2. Metodis adalah upaya-
upaya yang dilakukan
untuk meminimalisasi
kemungkinan terjadinya
penyimpangan dalam
mencari kebenaran.
Konsekuensi dari upaya
ini adalah harus terdapat
cara tertentu untuk
menjamin kepastian
kebenaran. Metodis
berasal dari kata Yunani
“Metodos” yang berarti:
cara, jalan. Secara umum
metodis berarti metode
tertentu yang digunakan
dan umumnya merujuk
pada metode ilmiah.
3. Sistematis. Dalam
perjalanannya mencoba
mengetahui dan
menjelaskan suatu obyek,
ilmu harus terurai dan
terumuskan dalam
hubungan yang teratur
dan logis sehingga
membentuk suatu sistem
yang berarti secara utuh,
menyeluruh, terpadu ,
mampu menjelaskan
rangkaian sebab akibat
menyangkut obyeknya.
Pengetahuan yang
tersusun secara
sistematis dalam
rangkaian sebab akibat
merupakan syarat ilmu
yang ketiga.
4. Universal. Kebenaran
yang hendak dicapai
adalah kebenaran
universal yang bersifat
umum (tidak bersifat
tertentu). Contoh: semua
segitiga bersudut 180ยบ.
Karenanya universal
merupakan syarat ilmu
yang keempat.
Belakangan ilmu-ilmu
sosial menyadari kadar
ke-umum-an (universal)
yang dikandungnya
berbeda dengan ilmu-
ilmu alam mengingat
obyeknya adalah
tindakan manusia.
Karena itu untuk
mencapai tingkat
universalitas dalam ilmu-
ilmu sosial, harus
tersedia konteks dan
tertentu pula.
[sunting] Pemodelan, teori,
dan hukum
Artikel utama: metode ilmiah
Istilah "model", "hipotesis",
"teori", dan "hukum"
mengandung arti yang
berbeda dalam keilmuan dari
pemahaman umum. Para
ilmuwan menggunakan istilah
model untuk menjelaskan
sesuatu, secara khusus yang
bisa digunakan untuk
membuat dugaan yang bisa
diuji oleh percobaan/
eksperimen atau pengamatan.
Suatu hipotesis adalah
dugaan-dugaan yang belum
didukung atau dibuktikan oleh
percobaan, dan Hukum fisika
atau hukum alam adalah
generalisasi ilmiah
berdasarkan pengamatan
empiris.
[sunting] Matematika dan
metode ilmiah
Matematika sangat penting
bagi keilmuan, terutama
dalam peran yang
dimainkannya dalam
mengekspresikan model
ilmiah. Mengamati dan
mengumpulkan hasil-hasil
pengukuran, sebagaimana
membuat hipotesis dan
dugaan, pasti membutuhkan
model dan eksploitasi
matematis. Cabang
matematika yang sering
dipakai dalam keilmuan di
antaranya kalkulus dan
statistika, meskipun
sebenarnya semua cabang
matematika mempunyai
penerapannya, bahkan bidang
"murni" seperti teori bilangan
dan topologi.
Beberapa orang pemikir
memandang matematikawan
sebagai ilmuwan, dengan
anggapan bahwa pembuktian-
pembuktian matematis setara
dengan percobaan. Sebagian
yang lainnya tidak
menganggap matematika
sebagai ilmu, sebab tidak
memerlukan uji-uji
eksperimental pada teori dan
hipotesisnya. Namun, dibalik
kedua anggapan itu,
kenyataan pentingnya
matematika sebagai alat yang
sangat berguna untuk
menggambarkan/menjelaskan
alam semesta telah menjadi
isu utama bagi filsafat
matematika.

Senin, 05 Oktober 2009

Menuntut ilmu adalah satu
keharusan bagi kita kaum
muslimin. Banyak sekali dalil
yang menunjukkan keutamaan
ilmu, para penuntut ilmu dan
yang mengajarkannya.
Adab-adab dalam menuntut
ilmu yang harus kita ketahui
agar ilmu yang kita tuntut
berfaidah bagi kita dan orang
yang ada di sekitar kita
sangatlah banyak. Adab-adab
tersebut di antaranya adalah:
1. Ikhlas karena Allah I .
Hendaknya niat kita dalam
menuntut ilmu adalah kerena
Allah I dan untuk negeri
akhirat. Apabila seseorang
menuntut ilmu hanya untuk
mendapatkan gelar agar bisa
mendapatkan kedudukan yang
tinggi atau ingin menjadi
orang yang terpandang atau
niat yang sejenisnya, maka
Rasulullah e telah memberi
peringatan tentang hal ini
dalam sabdanya e :
"Barangsiapa yang menuntut
ilmu yang pelajari hanya
karena Allah I sedang ia tidak
menuntutnya kecuali untuk
mendapatkan mata-benda
dunia, ia tidak akan
mendapatkan bau sorga pada
hari kiamat".( HR: Ahmad,
Abu,Daud dan Ibnu Majah
Tetapi kalau ada orang yang
mengatakan bahwa saya ingin
mendapatkan syahadah (MA
atau Doktor, misalnya ) bukan
karena ingin mendapatkan
dunia, tetapi karena sudah
menjadi peraturan yang tidak
tertulis kalau seseorang yang
memiliki pendidikan yang
lebih tinggi, segala ucapannya
menjadi lebih didengarkan
orang dalam menyampaikan
ilmu atau dalam mengajar.
Niat ini - insya Allah -
termasuk niat yang benar.
2.Untuk menghilangkan
kebodohan dari dirinya dan
orang lain.
Semua manusia pada mulanya
adalah bodoh. Kita berniat
untuk meng-hilangkan
kebodohan dari diri kita,
setelah kita menjadi orang
yang memiliki ilmu kita harus
mengajarkannya kepada
orang lain untuk menghilang
kebodohan dari diri mereka,
dan tentu saja mengajarkan
kepada orang lain itu dengan
berbagai cara agar orang lain
dapat mengambil faidah dari
ilmu kita.
Apakah disyaratkan untuk
memberi mamfaat pada orang
lain itu kita duduk dimasjid
dan mengadakan satu
pengajian ataukah kita
memberi mamfa'at pada
orang lain dengan ilmu itu
pada setiap saat? Jawaban
yang benar adalah yang
kedua; karena Rasulullah e
bersabda :
"Sampaikanlah dariku
walupun cuma satu ayat (HR:
Bukhari)
Imam Ahmad berkata: Ilmu itu
tidak ada bandingannya
apabila niatnya benar. Para
muridnya bertanya:
Bagaimanakah yang demikian
itu? Beliau menjawab: ia
berniat menghilangkan
kebodohan dari dirinya dan
dari orang lain.
3. Berniat dalam menuntut
ilmu untuk membela syari'at.
Sudah menjadi keharusan bagi
para penuntut ilmu berniat
dalam menuntut ilmu untuk
membela syari'at. Karena
kedudukan syari'at sama
dengan pedang kalau tidak
ada seseorang yang
menggunakannya ia tidak
berarti apa-apa. Penuntut ilmu
harus membela agamanya
dari hal-hal yang menyimpang
dari agama (bid'ah),
sebagaimana tuntunan yang
diajarkan Rasulullah e. Hal ini
tidak ada yang bisa
melakukannya kecuali orang
yang memiliki ilmu yang
benar, sesuai petunjuk Al-
Qor'an dan As-Sunnah.
4. Lapang dada dalam
menerima perbedaan
pendapat.
Apabila ada perbedaan
pendapat, hendaknya
penuntut ilmu menerima
perbedaan itu dengan lapang
dada selama perbedaan itu
pada persoalaan ijtihad, bukan
persoalaan aqidah, karena
persoalaan aqidah adalah
masalah yang tidak ada
perbedaan pendapat di
kalangan salaf. Berbeda
dalam masalah ijtihad,
perbedaan pendapat telah ada
sejak zaman shahabat, bahkan
pada masa Rasulullah e masih
hidup. Karena itu jangan
sampai kita menghina atau
menjelekkan orang lain yang
kebetulan berbeda pandapat
dengan kita.
5. Mengamalkan ilmu yang
telah didapatkan.
Termasuk adab yang
tepenting bagi para penuntut
ilmu adalah mengamalkan
ilmu yang telah diperoleh,
karena amal adalah buah dari
ilmu, baik itu aqidah, ibadah,
akhlak maupun muamalah.
Karena orang yang telah
memiliki ilmu adalah seperti
orang memiliki senjata. Ilmu
atau senjata (pedang) tidak
akan ada gunanya kecuali
diamalkan (digunakan).
6. Menghormati para ulama
dan memuliakan mereka.
Penuntut ilmu harus selalu
lapang dada dalam menerima
perbedaan pendapat yang
terjadi di kalangan ulama.
Jangan sampai ia mengumpat
atau mencela ulama yang
kebetulan keliru di dalam
memutuskan suatu masalah.
Mengumpat orang biasa saja
sudah termasuk dosa besar
apalagi kalau orang itu adalah
seorang ulama.
7. Mencari kebenaran dan
sabar
Termasuk adab yang paling
penting bagi kita sebagai
seorang penuntut ilmu adalah
mencari kebenaran dari ilmu
yang telah didapatkan.
Mencari kebenaran dari berita
berita yang sampai kepada
kita yang menjadi sumber
hukum. Ketika sampai kepada
kita sebuah hadits misalnya,
kita harus meneliti lebih
dahulu tentang keshahihan
hadits tersebut. Kalau sudah
kita temukan bukti bahwa
hadits itu adalah shahih, kita
berusaha lagi mencari makna
(pengertian ) dari hadits
tersebut. Dalam mencari
kebenaran ini kita harus
sabar, jangan tergesa-gasa,
jangan cepat merasa bosan
atau keluh kesah. Jangan
sampai kita mempelajari satu
pelajaran setengah-setengah,
belajar satu kitab sebentar
lalu ganti lagi dengan kitab
yang lain. Kalau seperti itu
kita tidak akan mendapatkan
apa dari yang kita tuntut.
Di samping itu, mencari
kebenaran dalam ilmu sangat
penting karena sesungguhnya
pembawa berita terkadang
punya maksud yang tidak
benar, atau barangkali dia
tidak bermaksud jahat namun
dia keliru dalam memahami
sebuah dalil.

ADAB PENUNTUT ILMU